April 23rd, 2008

Gara-gara 3 Hari Bursa

Gara-gara 3 Hari Bursa

“Becanda kali mereka, 3 hari bursa sebelum hari-H kan Jumat. Bahannya aja baru kita dapat hari ini, udah siang pula. Itu kan artinya kita musti begadang lagi biar besok pagi bisa submit draft pertama,” kataku rada emosi. Maklum, utang tidur untuk begadang beruntun pekan lalu saja belum lunas.

“Mana kita musti nyari wangsit lagi buat kasih penjelasan ke ^&%$# soal %$3@!&( yang lagi X%&$@ kayak gini,” sahut temenku si WW yang gak kalah emosi. “Tapi ya sudahlah, ini artinya tantangan buat kita sebagai calon $#@ masa depan,” ujarnya pasrah.

“Amin…Tapi coba kita check lagi deh, dulu-dulu kan H-1. Kok sekarang minta H-3. Apa karena udah ganti nama ya, jadi aturan ikutan beda,” aku mulai ngaco.

Aku dan si WW pun membaca lagi dengan teliti surat dari XXX yang kami terima tadi sore. Mereka meminta kami mengirim materi-materi untuk acara %$##@ ^%$## 3 hari bursa sebelumnya. Mungkin kami yang lupa gak perhatiin, atau memang ada aturan yang diganti.

”Di surat ini mereka nulisnya sih ”kami harap”. Artinya hanya himbauan kan ya? Bisa nego donk…” ujarku lagi dalam pengaruh kekacauan pikiran yang pekat kayak kopi tubruk.

”Himbauan dari Hongkong? Ini tetap aja perintah. Apalagi dari mereka. Mau dikirimin ’surat cinta’?”

Akhirnya kami sepakat menerima dengan tabah kenyataan bahwa malam ini kami berdua harus begadang lagi. Kami juga sepakat bahwa begadangnya lebih enak di rumah masing-masing. Bisa sambil ngopi-ngopi, ngemil, leyeh-leyeh, tidur-tiduran, atau terserah mau sambil apa. Yang penting besok pagi sudah ada draft untuk direview oleh beliau, lalu beliau satu lagi, dan abis itu beliau satunya lagi.

Begadang jangan begadang, kata Rhoma Irama, kalau tidak ada perlunya

Begadang ayo begadang, kata kami, sebelum bisa be’dagang…

April 19th, 2008

Ketika Pram Datang Dalam Mimpiku

Jakarta, 30 Juli 2007. Tadi malam aku mimpi bertemu kamu, Pram. Kalau ada di antara pembaca yang kenal aku, pasti dia akan berpikir tentang seseorang. Tapi bukan, bukan Pram yang itu. Yang aku maksud adalah Pramudya Ananta Toer. Padahal kamu kan sudah meninggal, ya. Dalam mimpiku, kamu sedang berusaha untuk mengajariku sesuatu sementara aku ogah-ogahan.

Namun kamu terus mendorongku untuk membaca buku-bukumu, meskipun kubilang aku tidak tertarik, ehm, maksudku aku tidak sedang ingin membacanya. Kamu hanya tersenyum mendengar alasanku. Memang selama ini aku banyak tahu tentang tulisanmu, tapi terus terang aku malas membaca bukumu. Mungkin karena salah satu bukumu yang sempat aku baca tidak menarik buatku. Aku malah lebih suka membaca ulasan orang, dari Bumi Manusia sampai tentang Jalan Pos. Bahkan aku tahu ada tokoh ciptaanmu yang bernama Nyi Ontosoroh karena diperankan oleh Happy Salma. Selebihnya, entahlah.

Suatu saat aku pernah memegang-megang salah satu bukumu di toko buku. Tapi aku tidak pernah merasa punya alasan yang cukup kuat untuk membawanya pulang. Entahlah Pak Pram (agak aneh sebenarnya memakai panggilan ini, yang biasanya aku pergunakan untuk big bosku di kantor), mungkin aku memimpikanmu karena melihat fotomu di buku koleksi foto “Mata Hati” terbitan Kompas. Buku itu diberikan oleh Pemred Kompas waktu kami berkunjung ke kantornya Jumat (27/7) lalu.

Kembali ke foto, pose kamu di buku itu sangatlah sulit dilupakan. Ekspresi yang terpotret sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin itu gambaran jiwa penuh semangat yang terjebak di tubuh yang lelah, atau justru sebaliknya. Mungkin juga tanpa sadar ada keterkaitan antara hidupku dengan tokoh-tokoh ciptaanmu. Ada semangat yang sama, memancarkan gelombang pada frekuensi yang sama. Mungkin memang ada sesuatu dalam dunia idemu yang harus aku ketahui, yang mungkin berguna untuk dunia ideku.

Kalau aku boleh ngelantur sedikit, mungkin ada juga pengaruh buku Harry Potter 7 yang sedang aku baca. Harry yang masih kehilangan Dumbledore merasa menyesal karena masih banyak hal yang ingin dia tanyakan dari guru besarnya selagi masih hidup, namun tidak dia lakukan. Mungkin kamu adalah personifikasi figur guruku yang hilang. Aku merasa senasib dengan Harry Potter yang tiba-tiba harus kehilangan guru yang telah mengajarinya banyak hal. Aku juga menyesali banyak hal yang belum sempat aku gali darinya. Tapi aku mungkin lebih beruntung karena sebenarnya guruku itu masih ada, hanya saja waktu dan kesempatan yang tidak akan banyak lagi.

Wahai Pak Pramudya Ananta Toer, meskipun tidak membaca bukumu, aku mengagumimu. Aku mengagumi semangatmu untuk tetap menulis walaupun dengan fasilitas minim di penjara. Bayangkan jika saat itu kamu memiliki laptop yang saat ini hampir semua orang punya. Aku juga akan sangat senang bisa jadi muridmu walaupun hanya dalam dunia ide. Aku percaya meski jasadmu sudah lebur dengan tanah, semangat dan idemu tidak akan mati. Idemu hidup dalam buku-buku yang menjadi sumber inspirasi banyak orang. Bahwa hidup tidak sebatas apa yang ada didepan mata kita saat ini. Bahwa kita masih ada kesempatan untuk meraih hal yang lebih baik, meski seburuk apapun keadaan saat ini. Aku tidak ingin berjanji, tapi satu saat nanti mungkin aku akan baca salah satu bukumu. Terima kasih sudah datang dalam mimpiku.

April 15th, 2008

Hello world!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!